Pendapatan Astra Semester I 2026 Turun 3%, Laba Bersih Capai Rp14,9 Triliun

Dok.Astra

FACEINDONESIA.CO.ID – PT Astra International Tbk mencatat pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp157,9 triliun pada Semester I 2026, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di saat yang sama, laba bersih di luar pos non-berulang (non-recurring items) tercatat Rp14,9 triliun atau menurun 7 persen.

Meski demikian, kinerja Astra tetap ditopang oleh pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan. Penurunan kontribusi dari segmen solusi pertambangan dan alat berat menjadi faktor utama yang menekan laba bersih grup.

Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan perseroan tetap fokus menjalankan strategi korporasi baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kami optimistis dengan kekuatan operasional, ketahanan bisnis, serta neraca keuangan Astra yang didukung alokasi modal secara disiplin,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7).

Strategi baru Astra berfokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat. Perseroan juga menerapkan kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk program dividen, share buyback, dan transformasi kepemimpinan.

Pada Mei 2026, Astra memperkenalkan empat pilar strategi, yaitu Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment, untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Astra menyiapkan program pembelian kembali saham (share buyback) hingga Rp8 triliun selama 12 bulan ke depan. Sementara United Tractors (UT) juga mengumumkan buyback senilai Rp2 triliun dalam tiga bulan.

Menurut Rudy, penurunan kinerja grup dipengaruhi melemahnya kontribusi bisnis pertambangan emas, turunnya penjualan alat berat, serta berkurangnya volume jasa penambangan dan batu bara.

Astra juga membukukan pos non-berulang sebesar Rp2,4 triliun yang berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan penurunan nilai aset (impairment).

Hingga 30 Juni 2026, nilai aset bersih per saham meningkat 1 persen menjadi Rp5.763.

Sementara utang bersih perseroan di luar anak usaha jasa keuangan mencapai Rp6 triliun, terutama dipengaruhi akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam, pelaksanaan share buyback, serta kebutuhan modal kerja.
Di sisi lain, utang bersih anak usaha jasa keuangan meningkat menjadi Rp67 triliun dari Rp64,9 triliun pada akhir 2025.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *