FACEINDONESIA.CO.ID – Pemerintah terus memperkuat industri farmasi nasional dengan mendorong investasi dan kolaborasi strategis bersama mitra global.
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pengembangan biofarmasi, mengurangi ketergantungan impor obat, serta memperkuat kemandirian sektor kesehatan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kemitraan antara industri nasional dan perusahaan global menjadi strategi penting untuk mempercepat transfer teknologi, inovasi, peningkatan kapasitas manufaktur, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Langkah ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern dan berkualitas, sekaligus memperkuat kemandirian industri farmasi nasional,” ujar Airlangga di Jakarta, Sabtu (25/7).
Menurutnya, kerja sama PT Tempo Scan Pacific Tbk dengan Sino Biopharmaceutical Group melalui joint venture bersama Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group (CTTQ) mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang semakin kondusif.
Airlangga menilai kolaborasi tersebut menjadi momentum penting untuk mempercepat pengembangan biofarmasi nasional, khususnya dalam memenuhi kebutuhan obat terapi kanker, penyakit hati, diabetes, gangguan pernapasan, hingga antiinfeksi.
Kerja sama itu juga akan mendukung produksi berbagai produk biologis bernilai tinggi, seperti antibodi monoklonal, biosimilar, protein rekombinan, sitokin, dan insulin biologis yang selama ini masih terbatas diproduksi di dalam negeri.
“Dengan pengembangan biofarmasi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada obat impor yang harganya relatif mahal,” tegas Airlangga.
Ia berharap kemitraan tersebut menjadi awal kerja sama jangka panjang yang mencakup transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, peningkatan kualitas SDM, penguatan kemampuan manufaktur, serta rantai pasok industri kesehatan agar semakin kompetitif di pasar global.
Airlangga juga mengapresiasi BPOM yang telah memperoleh pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai WHO-Listed Authority (WLA), sehingga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai regulator obat berstandar internasional.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan, pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) akan memperkuat produksi obat dalam negeri melalui sinergi kemampuan manufaktur Tempo Scan dan pengembangan produk dari CTTQ.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan pihaknya mendukung pengembangan industri biofarmasi melalui regulasi yang kredibel, percepatan inovasi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.
Menurut Taruna, Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi farmasi nasional mengingat tingginya kebutuhan obat bagi masyarakat dan masih besarnya ketergantungan terhadap produk impor. (ZID)





