Maybank Dorong Industri Percepat Transisi Ekonomi Rendah Karbon

Dok.Mybank Indonesia

FACEINDONESIA.CO.ID – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) bersama Maybank Group memperkuat komitmen keberlanjutan di tingkat ASEAN dengan mendorong pelaku industri mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Maybank Indonesia Sustainable Finance Forum 2026 yang mempertemukan regulator, pelaku jasa keuangan, dan pelaku industri untuk membahas percepatan implementasi keuangan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Forum menghadirkan sejumlah pembicara utama, antara lain Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Herman Saheruddin, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, serta pelaku industri nasional.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan mengatakan, transisi menuju ekonomi rendah karbon kini menjadi kebutuhan strategis di tengah meningkatnya tuntutan dekarbonisasi, pengelolaan risiko iklim, dan target Net Zero Emission (NZE).

“Sebagai institusi keuangan yang berkomitmen pada sustainable finance, kami ingin membantu pelaku industri mengelola risiko, menangkap peluang pertumbuhan, dan mengakses pembiayaan untuk transformasi bisnis berkelanjutan,” ujar Steffano.

Dalam forum tersebut, Maybank Indonesia juga memperkenalkan Sustainable Shariah Restricted Investment Account (SRIA) sebagai solusi investasi berbasis prinsip syariah yang mendukung pembiayaan proyek hijau dan transisi energi.

Menurut Steffano, integrasi prinsip keberlanjutan dalam sektor keuangan bukan lagi sekadar kepatuhan regulasi, tetapi telah menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing bisnis di pasar nasional maupun global.

Sementara itu, Group Chief Sustainability Officer Maybank Datuk Shahril Azuar Jimin menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi berkelanjutan bukan lagi agenda masa depan, melainkan kebutuhan dunia usaha saat ini.

Maybank menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar RM300 miliar hingga 2030 atau setara sekitar Rp1.314 triliun untuk mendukung nasabah, industri, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kawasan ASEAN. (ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *