FACEINDONESIA.CO.ID – PT Pertamina Patra Niaga memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program pengelolaan sampah dan limbah berbasis komunitas di wilayah operasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun mengatakan, komitmen tersebut diwujudkan lewat program Community Involvement & Development yang berjalan di sejumlah daerah seperti Dumai, Kasim, dan Makassar.
Menurutnya, kolaborasi dengan masyarakat dalam mengolah sampah rumah tangga tidak hanya berdampak pada lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi warga secara berkelanjutan.
Di Kelurahan Tanjung Palas, Dumai, Riau, Pertamina Patra Niaga menjalankan program Posyandu Sehati yang mengajak masyarakat menukarkan minyak jelantah dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita.
Masih di wilayah yang sama, Kelompok Wirani Rejosari mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair organik untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
Sementara itu di Kampung Malabam, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Pertamina Patra Niaga melalui Program MOI (Mandiri, Optimal, dan Integrasi) mendukung pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak.
Program tersebut melibatkan Kelompok Tani Wahimu yang memanfaatkan sisa makanan dan limbah hasil panen untuk pakan ternak babi milik Kelompok Ternak Kamisalun. Limbah peternakan kemudian diolah kembali menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk pertanian.
Di Makassar, Pertamina Patra Niaga bersama masyarakat Kelurahan Tamalabba mengembangkan Program Kampung BERLIAN sebagai solusi pengurangan sampah rumah tangga secara terpadu.
Program ini mencakup pemilahan sampah, budidaya maggot melalui Tamalabba Organic Center (TOC), penguatan bank sampah Tasberlin, hingga pengembangan pertanian urban berbasis hidroponik, aquaponik, dan budidaya ikan.
Hasilnya, Kampung BERLIAN mampu menekan timbulan sampah rumah tangga hingga 6,7 ton per bulan, memanfaatkan minyak jelantah, serta menghemat energi melalui penggunaan tenaga surya pada sistem hidroponik.
Program tersebut juga mencatat nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1,50, yang menunjukkan setiap Rp1 investasi perusahaan menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan senilai Rp1,50 bagi masyarakat.
Roberth berharap inisiatif serupa dapat diperluas agar semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat. Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik bukan hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.(SAN)






