FACEINDONESIA.CO.ID – Partai Amanat Nasional (PAN) membekali kadernya dengan cara berbeda. Melalui Workshop Nasional Fraksi DPRD PAN se-Indonesia di Jakarta, ribuan anggota DPRD PAN mendapat pelatihan langsung mengenai pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.
Dalam kegiatan bertajuk “Bantu Rakyat Pilah Sampah” tersebut, PAN menghadirkan komunitas pengelola sampah, bank sampah kreatif, hingga petugas kebersihan sebagai narasumber. Para legislator dibekali pengetahuan tentang pemilahan sampah, pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi, serta tata kelola sampah dari hulu hingga hilir.
Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengatakan para anggota dewan sengaja ditempatkan sebagai peserta agar dapat belajar langsung dari para pejuang lingkungan dan petugas kebersihan.
“Yang menjadi guru kami hari ini justru para petugas kebersihan dan komunitas lingkungan. Anggota dewan datang untuk mendengar dan belajar,” ujar Zulhas di Jakarta, Senin (8/6).
Menurutnya, persoalan sampah merupakan masalah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga penyelesaiannya harus dimulai dari sumbernya melalui kebiasaan memilah sampah di rumah, sekolah, kantor, dan tempat usaha.
Zulhas menegaskan, persoalan sampah kini bukan hanya soal kebersihan kota, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan.
Ia menyinggung laporan Emmett Institute UCLA yang menyebut TPST Bantargebang menjadi salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia pada 2025.
“Ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi mendatang. Karena itu, saya meminta seluruh kader membawa solusi nyata untuk daerah masing-masing,” tegasnya.
Melalui workshop tersebut, Fraksi PAN juga didorong memperkuat fungsi legislasi guna mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto, termasuk implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPD PAN Biak Numfor, Nikolas Oto, berharap pemerintah memberikan dukungan fasilitas pengolahan sampah di daerahnya. Menurutnya, keterbatasan sarana membuat pengelolaan dan pengiriman material daur ulang menjadi tidak efisien.
Ia berharap program yang dibahas dalam workshop dapat ditindaklanjuti dengan bantuan fasilitas pengolahan sampah sehingga limbah yang selama ini menjadi masalah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui program “Bantu Rakyat Pilah Sampah”, PAN berharap tercipta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.(HER)





