FACEINDONESIA.CO.ID – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional, khususnya pada bidang sosial dan humaniora. Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Penguatan Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Hilirisasi Kemitraan.
Rakor diselenggarakan Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (3/6/2026). Najib Burhani mengungkapkan bahwa dari total 330 jurnal Indonesia yang saat ini terindeks Scopus, sebanyak 101 jurnal berasal dari rumpun ilmu sosial dan humaniora. Menariknya, 53 jurnal di antaranya dikelola oleh PTKI.
Menurutnya, data tersebut menunjukkan peran strategis PTKI dalam memperkuat visibilitas dan reputasi publikasi ilmiah Indonesia pada bidang sosial-humaniora di tingkat internasional.
“Kontribusi PTKI sangat kuat dalam pengembangan jurnal sosial-humaniora. Ini merupakan modal penting yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya,” ujarnya.
Meski demikian, Najib menilai pengembangan ekosistem jurnal nasional perlu dilakukan secara lebih seimbang. Dominasi pada bidang sosial-humaniora perlu diikuti dengan penguatan jurnal dan publikasi ilmiah pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) agar kapasitas riset Indonesia berkembang secara merata.
Karena itu, di tengah keterbatasan anggaran yang tersedia, dukungan pendanaan dan program penguatan pada tahun ini akan lebih difokuskan untuk mendorong peningkatan kualitas riset dan publikasi di bidang STEM.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus menjawab kebutuhan pembangunan nasional yang semakin berbasis inovasi.
Selain mendorong penguatan STEM, Khairul juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas jurnal yang telah terakreditasi, terutama kategori SINTA 1 dan SINTA 2. Menurutnya, jurnal nasional harus mampu menjadi rujukan utama di bidangnya serta menghasilkan dampak ilmiah yang lebih luas.
Ia mengingatkan bahwa orientasi publikasi ilmiah ke depan tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi harus mampu melahirkan pengetahuan baru yang relevan bagi masyarakat dan mendapatkan pengakuan dari komunitas akademik global.
Rapat koordinasi yang digelar Kementerian Agama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pengembangan penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan hilirisasi hasil riset di lingkungan PTKI sebagai kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa.(HER)





