Memaknai Sirah Nabi: Perang atau Damai? #14

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Hujan baru saja reda ketika aula lantai tiga SMA Cendekia Insani itu kembali penuh. Dari jendela lebar terlihat lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang turun pelan ke jalan raya. Di dinding aula, ada mural besar bertuliskan “Belajar adalah Ibadah, Akhlak adalah Mahkota”. Di barisan tengah, para siswa menyiapkan buku sirah. Sebagian sudah hafal urutan perang: Badar, Uhud, Khandaq; sebagian lain bersiap dengan pertanyaan yang sama: “Mengapa sirah seperti selalu perang?”

Di depan mereka, Pak Sulaiman Rasyid –guru Pendidikan Agama Islam– berdiri tenang. Hari itu ia tidak membawa pedang kata-kata. Ia membawa cermin.

Bacaan Lainnya

“Anak-anak,” ucapnya pelan, “kita sering jatuh pada satu kesalahan yang tidak kita sadari. Kita meringkas Nabi menjadi satu episode paling dramatis, yakni perang (ghazwah). Padahal Nabi adalah manusia yang membawa rahmat. Dan rahmat itu justru paling sering hadir di masa damai.”

Ia menuliskan dua kata besar di papan:

MINDSET UMUM: PERANG
MINDSET KBC: DAMAI

Beberapa siswa tersenyum, seolah mulai mengerti arah pembicaraan ini. Pak Sule –demikian anak-anak memanggil akrab– melanjutkan, “KBC tidak menghapus perang dari sirah. KBC hanya menolak menjadikan perang sebagai ‘kacamata tunggal’ untuk melihat Nabi.”

Lalu ia memproyeksikan ayat itu, bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai kunci:

‘Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.’ (QS. Al-Anbiya: 107).

Pak Sule menjelaskan, kalau Nabi diutus sebagai rahmat, maka membaca sirah Nabi semestinya membuat kita lebih lembut, bukan lebih mudah menyulut konflik. Lebih memulihkan, bukan lebih gemar menang-debat.

 

Ketika Sirah Dipersempit Menjadi Perang

Pak guru Sule mengerti mengapa mindset perang mudah menonjol. Karena perang itu mudah diingat. Ada tanggal, ada peta, ada jumlah pasukan, ada kemenangan dan kekalahan. Dramatis. Sinematik. Sedangkan damai itu sering sunyi. Merawat tetangga, mendidik sahabat, menata pasar, membangun persaudaraan, mengangkat martabat perempuan, memuliakan yatim, menegakkan amanah. Damai itu tidak selalu heroik di mata kamera. Damai adalah kerja peradaban.

“Padahal,” lanjut Pak Guru, “kalau kita lihat rentang misi kenabian, Nabi berdakwah 23 tahun: sekitar 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.” Data pembagian periode Makkah–Madinah ini menjadi rujukan umum dalam kajian sejarah-sirah, dan juga ditegaskan dalam kajian akademik modern.

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat yang membuat aula hening:
“Selama 13 tahun di Makkah, apa yang Nabi lakukan? Bukan perang. Yang beliau bangun adalah landasan iman, keteguhan, akhlak, kesabaran, dan cara hidup yang memuliakan manusia di tengah tekanan era jahiliyah.”

Pak Sule lalu menampilkan data yang sengaja ia pilih dari sumber-sumber yang serius.

Pertama, tentang jumlah ekspedisi dan pertempuran yang “benar-benar combat”.
Salah satu ringkasan dari telaah karya Prof. Joel Hayward (sejarawan militer) menyebut, selama 10 tahun di Madinah, Nabi mengirim sekitar 80 ekspedisi, memimpin sekitar 27 ekspedisi di antaranya, dan sekitar 9 saja yang mengalami significant combat (pertempuran signifikan).

Pak Sule menatap murid-muridnya:

“Lihat baik-baik. Ada banyak gerak politik-keamanan, iya. Tapi significant combat itu tidak sebanyak yang dibayangkan. Banyak ekspedisi adalah patroli, misi pencegahan, diplomasi, penguatan keamanan, atau respons situasional. Jadi bukan hidup yang tiap hari perang.”

Kedua, tentang lamanya waktu Nabi terlibat dalam peperangan.

Ada kajian akademik yang menyebut estimasi Nabi menghabiskan sekitar satu setengah tahun total untuk urusan perang, termasuk perjalanan menuju peristiwa-peristiwa itu. Dan periode 9 tahun setelah izin perang (mulai sekitar tahun kedua Hijriah hingga wafat beliau) “chiefly spent with peace or peace initiatives” (lebih banyak diisi dengan damai atau inisiatif damai).

Pak Sulaiman tidak mengucapkan “kurang dari 10%” sebagai angka mutlak—karena cara menghitung porsi bisa berbeda. Tapi ia berkata dengan jujur:

“Kalau kita pakai estimasi waktu ini sebagai ilustrasi, maka jelas porsi hidup kenabian yang dominan bukan militer, melainkan sipil yakni tentang moral, sosial, spiritual”. Perang ada, tapi bukan identitas utama.

Penting untuk dicatat, bahkan ketika kondisi memaksa Nabi memimpin perang, beliau tetap mengibarkan etika perang yang rahmah, bukan nafsu kebencian.

Ia mengingatkan murid-muridnya pada prinsip besar yang sering diriwayatkan dalam berbagai redaksi. Nabi menolak menjadi pelaknat dan lebih memilih mendoakan hidayah. Ia tidak ingin kelas ini menjadi ruang propaganda. Ia ingin menjadi ruang penyembuhan cara pandang, bahwa Nabi bukan ikon kekerasan, melainkan teladan kemanusiaan.

“Kita boleh mempelajari strategi,” kata Pak Sule menjelaskan, “tetapi yang wajib kita warisi adalah akhlak pengelolaan konflik seperti menjaga batas, menahan dendam, memulihkan martabat manusia, dan mengutamakan damai ketika mungkin.”

Lalu ia menampilkan ayat yang sering terlewat ketika sirah dibaca dengan “kacamata perang”:

‘Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka…’ (QS. Ali ‘Imran: 159).

Pak Sule menekankan satu kalimat:

“Allah mengatakan: kalau engkau keras, mereka akan bubar. Itu pelajaran kepemimpinan: rahmah itu daya rekat peradaban.”

 

Saat Sirah Menjadi Budaya

Selesai sesi, aula mulai lengang. Tapi di koridor, Pak Sulaiman melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Sekelompok siswa mengerubungi siswa baru. Tidak ada pukulan. Tidak ada teriakan. Hanya senyum-senyum kecil yang menusuk, bisik-bisik, dan satu kalimat,
“Logat kamu lucu…”

Pak Sule berhenti. Inilah “sirah” versi nyata. Bukan di padang pasir, melainkan di lorong sekolah.

Ia memanggil mereka masuk ke ruang kecil dekat perpustakaan. Ia tidak memulai dengan hukuman. Ia memulai dengan pertanyaan:

“Kalian tadi sedang membangun apa?”

Anak-anak saling pandang. Ada yang menjawab pelan, “Cuma bercanda, Pak Guru…”

Pak Sule yang mengetahui itu bukan kejadian sesungguhnya mengangguk, lalu berkata lirih namun tegas:

“Mindset perang selalu mencari ‘siapa kuat, siapa lemah’. Mindset damai mencari ‘siapa terluka, siapa memulihkan’.”

Ia menatap kepada siswa baru: “Kamu aman di sini.”

Lalu ia menatap yang lain, “Kalau kalian cinta Nabi, buktikan dengan cara kalian membuat orang lain merasa aman. Karena peradaban Nabi dibangun bukan oleh ejekan, tapi oleh akhlak.”

Saat itu beberapa anak menunduk. Mereka tidak sedang kalah argumen. Mereka sedang bertemu cermin.

 

Nabi Bukan Ikon Perang, Tapi Arsitek Damai

Menjelang bubar, Pak Sulaiman kembali ke depan aula. Ia tidak ingin murid-muridnya pulang membawa angka-angka saja. Ia ingin mereka pulang membawa arah.

“Anak-anak,” katanya, “perang memang ada dalam sirah. Tapi Nabi tidak datang untuk menjadikan manusia gemar perang”.

Nabi datang untuk mengangkat manusia dari kebiadaban menjadi peradaban. Dari ego menjadi akhlak, dari dendam menjadi rahmah.

Mari camkan kalimat ini.

Kalau kita terus mengajar sirah Nabi dengan kacamata perang saja, kita akan melahirkan generasi yang pandai membenarkan konflik.

Tapi kalau kita ajar sirah Nabi dengan kacamata damai—sebagaimana ruh Al-Qur’an menyebutnya rahmat bagi semesta—kita akan melahirkan generasi yang pandai memulihkan.

Lalu ia menutup dengan satu punchline yang tinggal di udara aula:

“Nabi bukan sekadar panglima di medan tempur. Nabi adalah arsitek damai yang membangun manusia.

Mastuki (Kepala Pusbangkom SDM Kemenag) (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *