FACEINDONESIA.CO.ID – Cahaya matahari sore mulai meredup di atas sungai di wilayah perbatasan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Air mengalir tenang, sementara sebuah perahu kecil perlahan bergerak menyeberang. Di dalamnya, Ustaz Thifal Hadi Abdul Haq duduk membawa tas berisi Al-Qur’an dan beberapa kitab kecil.
Perjalanan itu bukan sekadar menyeberangi sungai. Bagi Thifal, perjalanan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjaga cahaya dakwah di wilayah perbatasan negara antara Indonesia dan Malaysia tetap menyala di ujung negeri.
Ustaz asal Pontianak ini merupakan salah satu dai yang bertugas dalam program Dai 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang digagas oleh Kemenag. Di wilayah perbatasan seperti Sambas, perjalanan menuju desa-desa binaan tidak selalu mudah. Beberapa di antaranya hanya dapat dijangkau dengan perahu melalui jalur sungai.
“Kadang untuk sampai ke masyarakat kami harus menyeberangi sungai terlebih dahulu. Tapi itu justru menjadi pengalaman yang berharga, karena di sana ada saudara-saudara kita yang menunggu bimbingan agama,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (13/3/2026).
Sesampainya di Desa Teluk Pandan, Kecamatan Galing, aktivitas dakwah dimulai dengan cara sederhana. Thifal menyapa warga, berkunjung dari rumah ke rumah, lalu mengajak anak-anak berkumpul di masjid atau surau untuk belajar membaca Al-Qur’an.
Ia juga membimbing mereka mempraktikkan ibadah dasar, mulai dari tata cara salat hingga memahami ajaran Islam secara sederhana. Saat Ramadan tiba, aktivitas dakwah menjadi lebih intens. Selain mengajar anak-anak mengaji, ia juga memberikan kultum, memimpin salat berjamaah, serta mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan ibadah.
Namun kebersamaan dengan masyarakat tidak hanya terjadi di dalam masjid. Seusai salat tarawih, ia kerap duduk santai bersama warga sambil menikmati secangkir kopi. Di momen seperti itulah warga biasanya menyampaikan berbagai pertanyaan dan keluh kesah yang selama ini mereka pendam. “Kadang setelah tarawih kami duduk santai sambil minum kopi. Di situ mereka biasanya bercerita atau bertanya tentang hal-hal yang belum mereka pahami,” tuturnya.
Menurut Thifal, pengalaman berdakwah di wilayah perbatasan membuatnya semakin menyadari bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan keagamaan. Ia mengaku termotivasi mengikuti program Dai 3T karena melihat perbedaan kondisi antara kota dan desa.
“Di kota dai sangat banyak. Sementara di desa-desa seperti ini masyarakat sangat jarang didatangi dai. Itu yang membuat saya terdorong mengikuti program ini untuk mengisi kekosongan yang ada,” ujarnya.
Meski penuh tantangan, sambutan masyarakat terhadap kehadiran dai sangat hangat. Bahkan banyak warga berharap kegiatan dakwah seperti ini tidak hanya berlangsung saat Ramadan. “Alhamdulillah respons masyarakat luar biasa. Mereka berharap kegiatan seperti ini bisa lebih lama dan lebih sering bersama mereka,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Ali Sibromalisi, mengatakan bahwa program Dai 3T dirancang untuk memperluas akses pembinaan keagamaan sekaligus memperkuat harmoni sosial di masyarakat.
Menurutnya, dakwah di wilayah 3T harus mengedepankan pendekatan yang dialogis dan menghargai kearifan lokal. “Dakwah di wilayah 3T harus mengedepankan moderasi beragama, menghargai kearifan lokal, membangun dialog, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat. Dai tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk membersamai,” ujarnya.
Tahun ini, Kementerian Agama Republik Indonesia mengirimkan 2.199 dai dalam Program Dai 3T dan Perbatasan 2026. Program ini menjadi bagian dari penguatan dakwah Ramadan yang menyasar wilayah-wilayah dengan keterbatasan akses pembinaan keagamaan.
Di tempat-tempat seperti Sambas, perjalanan melintasi sungai dan desa terpencil menjadi bagian dari perjuangan para dai. Dari perjalanan itulah cahaya dakwah terus menyala, menjangkau masyarakat yang selama ini jauh dari hiruk pikuk kota. (San)





