FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya mempercepat pembentukan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama di empat provinsi baru Papua, yakni Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya.
Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima audiensi New Papua Foundation (NPF) di Kantor Kementerian Agama, Kamis (26/2/2026).
Menurut Menag, pembentukan Kanwil di daerah otonom baru merupakan kebutuhan strategis untuk memastikan layanan keagamaan berjalan lebih efektif, terjangkau, dan responsif terhadap dinamika lokal. “Prosesnya terus kita selesaikan secara administratif bersama Kementerian Keuangan, Kementerian PAN-RB, dan Bappenas,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, koordinasi lintas kementerian diperlukan agar pembentukan Kanwil tidak hanya tuntas secara struktur organisasi, tetapi juga didukung kesiapan anggaran, formasi SDM, serta tata kelola yang akuntabel.
“Ini bukan sekadar membentuk kantor, tetapi memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat di Papua,” tegasnya.
Management Partner NPF, Baharuddin Farawowan menyampaikan harapan agar percepatan pembentukan Kanwil juga disertai afirmasi bagi putra-putri terbaik Papua untuk memimpin di daerahnya. langkah tersebut penting dalam konteks otonomi khusus serta keberpihakan kepada orang asli Papua.
“Masing-masing provinsi tentunya punya putra putri terbaik, ya kami harapkan kepada Pusat bisa melihat itu bahwa putra putri terbaik Papua juga bisa memimpin kanwil yang ada di sana,” harap Baharuddin.
Menanggapi hal itu, Menag menegaskan bahwa prinsip afirmasi dan keberpihakan terhadap talenta lokal sejalan dengan semangat otonomi khusus, sepanjang tetap mengacu pada regulasi yang berlaku.
“Kita ingin memberi ruang bagi putra-putri terbaik Papua untuk tampil dan memimpin. Afirmasi penting, tetapi harus tetap sejalan dengan aturan,” jelasnya.
Menag juga menekankan pentingnya penguatan moderasi beragama di Tanah Papua. Ia menyebut Papua sebagai rumah toleransi yang harus terus dijaga.
“Kerukunan itu tidak datang begitu saja. Ia harus dirawat, dipelihara, dan diperkuat secara terus-menerus. Papua bisa menjadi contoh praktik baik kerukunan,” tegasnya.
Audiensi ini menjadi bagian dari upaya mempercepat penguatan layanan keagamaan di daerah otonom baru Papua, sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam membangun tata kehidupan beragama di wilayah timur Indonesia. (San)





