FACEINDONESIA.CO.ID – Kementerian Agama menerima audiensi Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam (Persis) di Kantor Kementerian Agama. Pertemuan ini membahas penguatan peran generasi muda dalam mengarusutamakan Islam wasathiyah serta menghadirkan Ramadan sebagai momentum mempererat persaudaraan dan kepedulian sosial.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Islam wasathiyah (moderat) merupakan karakter utama keberagamaan di Indonesia yang harus terus dirawat, terutama oleh kalangan muda. “Islam wasathiyah itu bukan Islam yang setengah-setengah, tetapi Islam yang adil, seimbang, dan membawa rahmat bagi semua. Ramadan adalah waktu ketika iman menumbuhkan persaudaraan, dan ibadah melahirkan kepedulian. Dari sinilah harmoni sosial kita dirawat,” ujar Menag, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, Ramadan tidak boleh hanya dimaknai sebagai ritual individual, tetapi juga sebagai energi sosial yang menghadirkan agama sebagai solusi dalam kehidupan. “Kalau puasa hanya menahan lapar, itu belum cukup. Puasa harus melahirkan empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Agama harus hadir memberi solusi atas persoalan umat seperti kemiskinan, perpecahan, dan krisis moral. Di situlah makna wasathiyah menjadi nyata,” lanjutnya.
Menag juga mengajak Persis untuk terus menjadi jembatan dialog dan penguat ukhuwah di tengah dinamika keberagamaan yang beragam di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Persis, Ibrahim Nasrul Haq, menyampaikan komitmen organisasinya untuk memperkuat dakwah yang menyejukkan dan solutif selama Ramadan.
“Bagi kami, Islam wasathiyah adalah cara pandang yang menempatkan agama sebagai rahmat dan pencerah. Ramadan adalah momentum memperkuat ukhuwah, bukan mempertajam perbedaan. Ibadah harus berdampak sosial, menghadirkan kepedulian nyata kepada sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Persis siap menggerakkan program-program sosial dan edukatif selama Ramadan, agar semangat ibadah berjalan beriringan dengan penguatan harmoni dan solidaritas kebangsaan. (San)





