FACEINDONESIA.CO.ID-Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat promosi pariwisata Indonesia di pasar Australia melalui pengembangan segmen wisata edukasi. Salah satu upayanya dilakukan dengan mengajak 43 calon pemimpin muda Australia menjelajahi kekayaan sejarah, budaya, dan identitas Jakarta.
Program bertajuk Wonderful Indonesia Edu-Familiarization Trip: Where Heritage Meets a Sustainable Future ini diselenggarakan oleh University of Tasmania (UTAS) bersama Westpac Scholars Trust. Kegiatan tersebut melibatkan 43 peserta Westpac Australia-Asia Fellowship (WAAF) Leadership Residential Program yang berkunjung ke Jakarta pada 4–7 Oktober 2026.
Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan wisata edukasi internasional, khususnya bagi wisatawan Australia.
Menurutnya, Australia merupakan salah satu pasar utama pariwisata Indonesia. Karena itu, pengalaman langsung para peserta di Jakarta diharapkan dapat memperluas promosi Indonesia melalui jejaring akademik dan profesional mereka.
“Australia merupakan salah satu pasar utama pariwisata Indonesia. Melalui program ini, kami ingin para calon pemimpin muda Australia merasakan langsung Jakarta, dari Masjid Istiqlal hingga cerita sejarah Kota Tua, sehingga pengalaman tersebut menjadi cerita positif tentang Indonesia yang mereka bawa ke jejaring akademik dan profesionalnya,” ujar Ni Made dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Jelajahi Sejarah dan Budaya Jakarta
Rangkaian kegiatan mengangkat tema identitas, perubahan, dan pengaruh regional Indonesia. Pada 5 Oktober 2026, para peserta mengikuti sesi In-Conversation bersama Research Professor BRIN Dewi Fortuna Anwar.
Mereka juga menghadiri diskusi panel bertajuk Indonesia in Focus yang menghadirkan Prof. Rizaldi Boer dari IPB University, Dr. Lina Alexandra dari CSIS, serta Dr. Rusli Cahyadi dari BRIN. Agenda hari tersebut turut diisi dengan santap siang bersama perwakilan Kemenpar dan CEO Westpac Scholars Trust, Amy Lyden.
Kemenpar juga memperkenalkan kekayaan warisan budaya Indonesia melalui kunjungan berpemandu ke Masjid Istiqlal. Para peserta kemudian mengikuti walking tour bertema “Jakarta’s Story: Heritage, Identity and Urban Change” dengan menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta, termasuk Kali Besar dan Lapangan Fatahillah.
Kegiatan dilanjutkan dengan Heritage Networking Dinner di House of Tugu. Acara tersebut menjadi ruang pertemuan bagi peserta dengan akademisi, pakar, dan pemangku kepentingan Indonesia untuk bertukar pandangan dalam suasana budaya dan kuliner Nusantara.
Pada 6 Oktober 2026, agenda berlanjut dengan pengarahan di Kedutaan Besar Australia, kunjungan ke Sekretariat ASEAN, serta kehadiran dalam resepsi ASEAN Emerging Leaders. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh City pada 7 Oktober 2026, peserta mengikuti sesi Activity Briefing dan refleksi perjalanan.
Perkuat Citra Indonesia di Pasar Internasional
CEO Westpac Scholars Trust dan Westpac Foundation, Amy Lyden, mengapresiasi sambutan serta pengalaman yang diperoleh para peserta selama berada di Jakarta.
Ia menilai, pertemuan langsung dengan tokoh dan pakar Indonesia, disertai eksplorasi warisan budaya kota, memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai Indonesia.
“Bertemu langsung dengan para tokoh dan pakar Indonesia serta menjelajahi warisan budaya kota ini sangat memperkaya pemahaman para peserta tentang Indonesia,” kata Lyden.
Kemenpar menilai wisata edukasi yang menggabungkan warisan budaya dengan isu keberlanjutan memiliki peluang untuk membuka kolaborasi lebih luas dengan perguruan tinggi dan mitra di Australia.
Selain memberikan pengalaman belajar secara langsung, program ini diharapkan mendorong para peserta menjadi duta informal Indonesia dengan membagikan pengalaman mereka kepada komunitas masing-masing. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang menawarkan pengetahuan, kekayaan budaya, dan pengalaman perjalanan yang bermakna.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kemenpar, Yulia, menambahkan bahwa kampanye Go Beyond Ordinary menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat daya tarik pariwisata Indonesia melalui pengalaman yang melampaui wisata konvensional.
Kampanye tersebut mengedepankan eksplorasi budaya, pembelajaran, serta keterhubungan dengan isu-isu global yang relevan. Pendekatan ini diharapkan mampu menarik wisatawan yang mencari perjalanan lebih mendalam sekaligus memberikan nilai tambah bagi destinasi yang dikunjungi.
“Melalui kampanye Go Beyond Ordinary, kami ingin menghadirkan perspektif baru dalam berwisata dengan menawarkan pengalaman yang lebih autentik, berkesan, dan bermakna,” ujar Yulia.
Melalui pengembangan wisata edukasi, Kemenpar berharap semakin banyak wisatawan internasional yang mengenal Indonesia tidak hanya sebagai tujuan liburan, tetapi juga sebagai tempat untuk mempelajari sejarah, memahami keberagaman budaya, dan mengeksplorasi gagasan mengenai masa depan berkelanjutan.(ZID)






