FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja pada 3 Oktober 2026. Forum yang menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, akademisi, hingga pegiat seni ini membahas strategi pengembangan gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan.
Dalam sesi pembuka bertajuk Gastronomy as Identity and Industry: Indonesia’s Socio-Economic Engine, para narasumber membahas potensi kuliner sebagai bagian dari kekayaan budaya, pariwisata, dan pembangunan daerah. Sesi tersebut dipandu Analis Kebijakan Ahli Utama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu.
Hadir sebagai narasumber, Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara; Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias; serta perwakilan Bappeda DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania.
GKR Bendara menegaskan, wisata gastronomi Yogyakarta tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan cerita sejarah, pengalaman budaya, dan keberlanjutan sumber pangan lokal.
Ia mencontohkan cita rasa manis yang menjadi ciri khas sejumlah kuliner Yogyakarta. Menurutnya, kebiasaan tersebut berkaitan dengan sejarah keberadaan pabrik gula pada masa Sultan Hamengkubuwono VII.
“Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Orang harus mengetahui rekam sejarahnya. Ini yang harus dikemas dengan baik,” ujar GKR Bendara.
Ia juga memperkenalkan dua kuliner langka asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni nasi golong gilig dan dawet sambal. Kuliner dawet sambal yang memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata apabila didukung narasi dan promosi yang tepat.
Senada, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyampaikan bahwa gastronomi perlu dikembangkan melalui storytelling yang kuat dan berlandaskan nilai budaya. Ia mencontohkan rendang yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menyimpan makna filosofis.
Menurut Ramlan, dokumentasi kuliner, pelestarian tradisi, serta integrasi dengan penataan kota pusaka dan cerita sejarah dapat memberikan nilai tambah bagi wisatawan.
Transformasi Warisan Kuliner Indonesia
Sesi kedua bertajuk Serving Indonesia: Translating Heritage into a Scalable F&B Business membahas strategi mengembangkan warisan kuliner Nusantara menjadi bisnis makanan dan minuman yang berkelanjutan.
Sesi yang dipandu Yoke Darmawan ini menghadirkan Chef Fernando Sindu dari Salira, Chef Glennaldy Adrian Erari dari SEMAJA, serta pendiri Chocolate Monggo, Thierry Detournay.
Chef Fernando menjelaskan bahwa konsumen Indonesia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masakan daerah, terutama hidangan yang mengingatkan mereka pada masakan keluarga.
Karena itu, pemahaman terhadap resep asli dari berbagai daerah menjadi kunci untuk menjaga keautentikan kuliner, sekaligus membuka peluang inovasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Thierry Detournay menceritakan perjalanan Chocolate Monggo dalam memperkenalkan cokelat murni atau couverture kepada masyarakat Indonesia yang sebelumnya lebih terbiasa dengan cokelat komposit (compound chocolate).
Berawal dari dapur seluas 50 meter persegi di selatan Yogyakarta, Chocolate Monggo berkembang menjadi salah satu pelopor cokelat artisan Indonesia. Produk-produknya memiliki 22 varian rasa berbahan kakao berkualitas tinggi dengan kemasan ramah lingkungan berornamen Jawa.
Chocolate Monggo juga menghadirkan wisata edukasi melalui museum dan area pabrik agar pengunjung dapat mengenal proses pengolahan kakao menjadi produk cokelat bernilai tambah.
“ Kakao Indonesia memiliki kualitas yang bagus. Ini harus bisa dimanfaatkan masyarakat agar bisa menghasilkan cokelat berkualitas dengan pengolahan yang benar,” ujar Thierry.
Kolaborasi Perkuat Bisnis Gastronomi
Sesi ketiga membahas Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) dan potensi gastrowisata sebagai upaya memperkuat ekosistem gastronomi Indonesia.
Diskusi menghadirkan Founder & CEO Pelangi Benua Vinny Mulyadi, Ibu & Pengarsip Bhumi Bhuvana Bukhi Prima Putri, Marcia Tirtawisata dari Panorama Group, serta Mario Sabato dari Bank BTN. Sesi tersebut dimoderatori Muhammad Alif Hudanto.
Pembahasan mencakup integrasi rute wisata berbasis pengalaman, pengarsipan kuliner oleh komunitas, distribusi berskala nasional, hingga dukungan ekosistem keuangan digital bagi UMKM kuliner.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperluas manfaat ekonomi gastronomi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha para pelaku kuliner.
Pada sesi keempat, forum mengeksplorasi gastronomi sebagai modal kreatif (creative capital). Sesi yang dipandu Poppy Octavia Siregar ini menghadirkan ilustrator Nugraha Pratama, arsitek Rubi Roesli, desainer permainan papan Adhicipta Raharja Wirawan, serta sutradara film Nia Dinata.
Nia Dinata berbagi pengalaman saat menggarap film Berbagi Suami (2006), termasuk riset untuk menghadirkan restoran fiktif “Bebek Koh Abun” di kawasan Glodok dengan resep dan teknik memasak yang autentik.
Menurutnya, proses mengolah dan menyajikan makanan memiliki daya tarik visual sekaligus menyimpan kekayaan budaya. Ia juga mengangkat kuliner lokal Yogyakarta, seperti gudeg, mi godog, dan jajanan pasar tradisional, dalam proyek terbarunya, Berbagi Suami 2.0.
Sementara itu, Nugraha Pratama menilai tantangan menggambarkan makanan bukan hanya menampilkan bentuknya, melainkan menangkap nilai budaya dan sejarah di balik hidangan tersebut.
Melalui sketsa, ia berupaya mendokumentasikan sejarah gastronomi dan merekam cara masyarakat menikmati makanan serta berinteraksi secara sosial pada masanya.
Kuliner Nusantara Menuju Pasar Global
Sesi penutup bertajuk Story, Taste, Identity: Building a Global Narrative for Indonesian Cuisine menghadirkan pegiat kuliner Indonesia yang berkiprah di tingkat internasional, yakni Dindin Mediana, Partner TUKU Amsterdam sekaligus Co-Founder Hejo Coffee; penulis kuliner internasional Petty PandeanElliott; serta Chef Agus Hermawan, pemilik restoran di Amsterdam.
Diskusi menyoroti pentingnya penguatan narasi, konsistensi mutu, dan strategi membangun kepercayaan konsumen global terhadap kuliner Indonesia.
Kuliner Nusantara dinilai tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga merepresentasikan sejarah, keragaman budaya, kekayaan bahan pangan, kreativitas masyarakat, dan identitas bangsa.
Melalui WIG Talks and Forum 2026, Kementerian Pariwisata berharap gagasan dan praktik baik yang dihasilkan dalam forum tersebut dapat menjadi referensi untuk memperkuat ekosistem gastronomi nasional.
Kolaborasi pemerintah, industri, komunitas, akademisi, seniman, dan pelaku usaha diharapkan mampu menjadikan gastronomi sebagai kekuatan budaya dan ekonomi, sekaligus memperluas pengenalan kuliner Indonesia di pasar internasional.
Dengan strategi yang tepat, warisan kuliner Nusantara berpeluang berkembang menjadi daya tarik wisata unggulan, membuka peluang usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.(ZID)






