FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong perguruan tinggi dan sekolah membangun ekosistem pendidikan yang saling terhubung untuk meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran. Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pendidikan bermutu di Indonesia.
Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat menghadiri Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Jumat (2/10).
Abdul Mu’ti menjelaskan, perguruan tinggi, khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, kedua jenjang pendidikan tersebut saling membutuhkan dan harus bekerja sama untuk memperkuat mutu pendidikan.
“Ketika kita berbicara ekosistem, kita berbicara mengenai saling ketergantungan dan saling mengisi, saling memperkuat antara satu dengan yang lainnya,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, kualitas guru berkaitan erat dengan kualitas perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga pendidik. Guru yang berkualitas diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang baik sehingga menghasilkan murid dengan kualitas unggul.
“Kalau kita ingin memiliki guru yang berkualitas, kuncinya adalah perguruan tinggi yang menghasilkan para guru. Dan guru yang berkualitas akan menghasilkan murid-murid yang berkualitas,” tuturnya.
Abdul Mu’ti juga mengajak perguruan tinggi dan satuan pendidikan untuk mengedepankan gotong royong dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan, bukan saling menyalahkan. Ia menilai, tantangan yang dihadapi harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi.
“Tidak ada ruang untuk kita saling menyalahkan. Tetapi berbagai permasalahan yang kita hadapi adalah peluang untuk kita saling memperkuat, saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya,” katanya.
Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan, turut menegaskan pentingnya peran LPTK dalam ekosistem pendidikan, terutama untuk menjawab tantangan kualitas dan profesionalisme guru.
Menurut Lasmawan, LPTK tidak hanya perlu mengidentifikasi persoalan pendidikan, tetapi juga berperan aktif dalam mencari dan menerapkan solusi bersama.
Lima Kebijakan Kemendikdasmen yang Membutuhkan Dukungan LPTK
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti memaparkan lima kebijakan prioritas Kemendikdasmen yang membutuhkan dukungan perguruan tinggi, khususnya LPTK.
Pertama, pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan pembelajaran, termasuk kondisi schooling without learning atau kegiatan bersekolah yang belum menghasilkan pembelajaran optimal, serta tantangan rentang perhatian murid (attention span).
Kedua, penguatan pendidikan karakter. Kemendikdasmen mendorong penguatan karakter melalui bimbingan dan konseling dengan pendekatan yang lebih humanis serta mengutamakan pendampingan terhadap murid.
Ketiga, penguatan STEM. Penguasaan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dinilai penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengolah kekayaan alam Indonesia menjadi produk bernilai ekonomi.
Untuk mendukung hal tersebut, Kemendikdasmen mendorong pengembangan STEM 5M, yakni mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Kebijakan ini juga membutuhkan lebih banyak guru yang memiliki kemampuan mengajar STEM.
Keempat, Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib. Mata pelajaran ini direncanakan mulai diajarkan pada tahun akademik 2027–2028, mulai kelas 3 sekolah dasar (SD). Kemendikdasmen juga melatih guru kelas agar mampu mengajarkan keterampilan dasar Bahasa Inggris melalui pendekatan komunikatif dan menyenangkan.
Kelima, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI). Materi koding dan AI direncanakan dapat diajarkan mulai kelas 5 SD hingga jenjang pendidikan menengah untuk membekali murid dengan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa pelaksanaan kelima kebijakan tersebut memerlukan peningkatan kapasitas dan kompetensi guru. Karena itu, perguruan tinggi diharapkan berkontribusi lebih besar dalam penyelenggaraan pelatihan serta pengembangan profesionalisme tenaga pendidik.
“Forum ini kami ingin mendapatkan dukungan dari Bapak-Ibu pimpinan perguruan tinggi agar guru kami lebih berkualitas. Maka berbagai banyak pelatihan juga tentu harus dilaksanakan,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyoroti pentingnya sinergi pendidikan tinggi dengan pendidikan dasar dan menengah dalam mencetak talenta unggul Indonesia.
Ia berharap kolaborasi kedua kementerian dapat mendorong pendidikan yang berdampak, memperkuat riset dan inovasi, serta meningkatkan kontribusi pengabdian kepada masyarakat.
“Pada pendidikan tinggi, sains, dan teknologi bersama-sama dengan Pak Mendikdasmen pada pendidikan dasar menengah memberikan dorongan yang luar biasa kepada melahirkan talenta-talenta unggul di Indonesia. Kami ingin pendidikan berdampak, riset dan inovasi kita juga kuat, dan tentunya pengabdian yang bisa memberikan dampak yang besar,” ujar Brian.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, Kemendikdasmen berharap peningkatan kompetensi guru, kualitas pembelajaran, dan pengembangan talenta unggul Indonesia dapat berjalan lebih optimal.(ZID)






