FACEINDONESIA.CO.ID- Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengembangkan konsep Human Library sebagai ruang berbagi pengetahuan melalui pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Program ini diperkenalkan dalam kegiatan Kelas Literasi Budaya Nusantara #3 bertajuk Musik Tradisional Sawah Rhythm di Jakarta, Jumat (2/10/2026), dengan menghadirkan musisi Gilang Ramadhan.
Melalui konsep Human Library, pengalaman, perjalanan hidup, dan pengetahuan seseorang menjadi sumber pembelajaran yang dapat dibagikan serta didiskusikan bersama masyarakat.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menjelaskan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan menyediakan koleksi, tetapi juga menjadi ruang kreativitas, inovasi, dan interaksi masyarakat.
“Perpustakaan Nasional tidak hanya sebagai jajaran koleksi, tetapi sebagai ruang hidup, ruang kreativitas,” ujarnya, Jumat (2/10/2026).
Menurut Suharyanto, Human Library membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar langsung dari pengalaman seseorang. Program ini sekaligus memperluas interaksi Perpusnas dengan berbagai kalangan, termasuk pelaku seni dan budaya.
Dalam kegiatan tersebut, Gilang Ramadhan membagikan pengalaman selama 30 tahun berkesenian, khususnya dalam mengenali dan mencatat beragam ritme musik tradisional Nusantara. Ia telah mendokumentasikan sekitar 100 ritme dari berbagai daerah dan mendigitalisasikannya melalui gagasan bernama Sawah Rhythm.
Ketertarikan Gilang terhadap musik perkusi membawanya menjelajahi berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Dari perjalanan tersebut, ia menemukan kekayaan ritme musik tradisional yang sangat beragam, bahkan memiliki perbedaan antara satu daerah dan desa dengan lainnya.
“Ribuan. Karena memang ketukan setiap daerah berbeda. Bahkan di Papua, beda desa sudah beda ketukan,” jelas Gilang.
Bagi Gilang, dokumentasi musik tradisional tidak cukup hanya disimpan sebagai arsip. Ia berharap ritme yang telah dikumpulkan dapat terus dimainkan, dikembangkan, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menciptakan karya baru.
“Yang saya inginkan adalah bergairah, dimainkan, diciptakan, memberikan inspirasi bagi anak-anak muda supaya bisa berkreasi dengan catatan Sawah Rhythm,” ujarnya.
Melalui pengembangan Human Library, Perpusnas berupaya menjadikan pengalaman para pelaku seni dan budaya sebagai sumber pengetahuan yang dapat diakses masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam koleksi perpustakaan, tetapi juga terus berkembang melalui interaksi dan pertukaran pengalaman.
Program ini diharapkan dapat memperkuat literasi budaya sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenal, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan musik tradisional Indonesia.(ZID)






