FACEINDONESIA.CO.ID – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) global, termasuk di Indonesia, menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Selain penurunan alami produksi di lapangan tua, sektor ini juga dibayangi dinamika geopolitik global dan tuntutan transisi energi.
Meski begitu, potensi migas Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Global Executive Talk bertajuk “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas” pada ajang IPA Convex 2026 di Jakarta, Rabu (20/5).
Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, mengatakan ada tiga strategi utama untuk menghadapi tantangan industri migas saat ini, yakni memperkuat kemitraan, meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah, dan memanfaatkan teknologi.
“Kami memiliki kemitraan kuat, termasuk dengan PETRONAS. Dukungan pemerintah melalui insentif fiskal, kemudahan perizinan, serta penggunaan teknologi juga penting untuk menekan risiko usaha,” ujar Oki.
Di sisi lain, kondisi geopolitik global turut memberi tekanan besar terhadap industri energi dunia.
President and Group CEO PETRONAS, Tengku Muhammad Taufik, mengungkapkan investasi hulu minyak global pada 2025 diperkirakan turun sekitar 6 persen.
Dari total investasi hulu migas dunia yang mencapai sekitar 570 miliar dolar AS, sekitar 40 persen digunakan untuk menahan laju penurunan produksi di lapangan migas yang sudah beroperasi.
Executive Vice President Finance & Administration KUFPEC, Abdullah F. Al-Osaimi, menilai industri migas kini membutuhkan modal besar dan teknologi baru.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi mencari hidrokarbon, tetapi mendapatkan cadangan dengan risiko dan kompleksitas rendah.
Selain itu, transisi energi, tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance), hingga kebijakan domestik berbagai negara turut memengaruhi iklim investasi sektor migas.
Di tengah tantangan global tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik besar, terutama di kawasan laut dalam dan wilayah timur Indonesia yang belum banyak dieksplorasi.
Pemanfaatan teknologi seperti enhanced oil recovery (EOR), digitalisasi operasi, hingga kecerdasan buatan (AI) mulai dioptimalkan untuk menjaga produksi migas nasional.
Direktur dan CEO MedcoEnergi, Roberto Lorato, menilai tata kelola industri migas Indonesia terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Indonesia masih memiliki potensi besar. Karena itu, eksplorasi dan pengembangan jangka panjang harus terus dilakukan dengan pendekatan yang lebih fleksibel,” kata Roberto.
Optimisme juga disampaikan CEO Mubadala Energy, Mansoor Muhamed Al Hamed.
Setelah 15 tahun beroperasi di Indonesia, Mubadala berhasil menemukan cadangan gas besar di Blok Andaman.
Menurut Mansoor, temuan di Tangkulo, Andaman, hingga Southwest Andaman berpotensi menjadikan Mubadala sebagai salah satu produsen gas terbesar di Indonesia ketika mulai berproduksi nanti.
Dengan dukungan regulasi dan kebijakan fiskal yang tepat, sektor hulu migas diyakini tetap menjadi penopang penting ketahanan energi nasional. Indonesia pun dinilai masih memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai produsen energi utama di kawasan regional. (San)





