“Al-Hajju Arafah”, Musyrif Diny Minta Jemaah Prioritaskan Rukun Haji

Dok.Kemenhaj

FACEINDONESIA.CO.ID – Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), para Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengingatkan jemaah haji Indonesia agar lebih bijak menjaga kondisi fisik. Jemaah, terutama lansia dan kelompok risiko tinggi, diminta tidak memaksakan diri mengejar ibadah sunnah yang berpotensi menguras tenaga sebelum wukuf di Arafah.

Imbauan itu disampaikan menyusul tingginya aktivitas ibadah jemaah di Madinah dan Makkah, mulai dari mengejar shalat Arbain di Masjid Nabawi hingga berulang kali melaksanakan umrah sunnah di Masjidil Haram.

Bacaan Lainnya

Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa menjaga stamina jelang Armuzna jauh lebih penting agar jemaah mampu menjalankan rukun haji secara sempurna.

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji. Yang paling utama adalah kesiapan untuk menjalani Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Kiai Cholil di Madinah, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, jemaah yang sudah berniat melaksanakan ibadah sunnah tetap memperoleh pahala meski tidak dapat menunaikannya karena uzur atau alasan kesehatan. Karena itu, lansia maupun jemaah dengan kondisi fisik terbatas diminta tidak memaksakan diri terus-menerus datang ke masjid.

“Kalau sudah punya niat baik untuk shalat di masjid lalu terhalang karena kondisi kesehatan atau demi menjaga stamina, insyaAllah tetap mendapatkan pahala,” katanya.

Kiai Cholil menjelaskan, bagi jemaah yang tinggal di hotel sekitar kawasan Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, ibadah yang dilakukan di pemondokan tetap bernilai ibadah dan tidak perlu menimbulkan kegelisahan apabila tidak mampu terus berada di masjid.

Ia menilai sebagian jemaah terkadang terlalu bersemangat menjalani ibadah sunnah hingga melupakan pentingnya menjaga kebugaran tubuh menghadapi cuaca panas dan kepadatan menjelang Armuzna.

Senada dengan itu, Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan agar jemaah tidak terjebak pada semangat “aji mumpung” selama berada di Tanah Suci.

Menurutnya, ibadah sunnah seperti umrah berulang kali maupun thawaf tambahan sebaiknya dilakukan secara proporsional dan disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.

Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan juga bagian dari ikhtiar ibadah. Terlebih, rangkaian puncak haji membutuhkan kondisi fisik yang prima karena jemaah akan menjalani mobilitas tinggi di tengah suhu panas Arab Saudi.

Hal senada disampaikan Abdullah Kafabihi Mahrus. Menurutnya, esensi utama ibadah haji adalah wukuf di Arafah sehingga seluruh persiapan jemaah sebaiknya diarahkan untuk menghadapi momentum tersebut.

“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.

Ia menambahkan, jemaah perlu mengatur energi dan aktivitas sejak awal agar tetap kuat mengikuti seluruh rangkaian ibadah wajib saat puncak haji nanti.

Para Musyrif Diny berharap jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah haji tahun ini dengan lebih seimbang, yakni tetap semangat beribadah namun tidak mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan. Dengan kondisi fisik yang terjaga, jemaah diharapkan mampu mengikuti seluruh rangkaian Armuzna dengan lancar, aman, dan khusyuk.
[14/5 17.45] Yazid boy Sandy: Usia 103 Tahun Tak Surutkan Langkah Mbah Mardi Menuju Tanah Suci

Semangat menunaikan ibadah haji tetap terpancar dari Mardijiyono meski usianya telah mencapai 103 tahun. Menggunakan kursi roda, jemaah asal Indonesia yang akrab disapa Mbah Mardi itu berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk menjalankan umrah wajib sekaligus bersiap menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Mbah Mardi bertolak bersama kloter YIA 9 dari Hotel Makarem Haram View Suites Madinah pada Senin sore sekitar pukul 16.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Dengan didampingi petugas, ia perlahan didorong menuju bus keberangkatan.

Sejak jelang salat Ashar sekitar pukul 15.30 WAS, Mbah Mardi sudah berada di dalam bus bersama sejumlah jemaah lanjut usia lainnya sambil menunggu proses pendorongan menuju Makkah. Sementara sebagian jemaah lain masih menunaikan salat Ashar di Masjid Nabawi.

Petugas tampak membantu proses mobilitas Mbah Mardi mulai dari hotel hingga naik ke bus yang akan membawa rombongan menuju Bir Ali untuk mengambil miqat dan niat ihram.

Ketua Sektor 1 Madinah, Ramlan Sudarto mengatakan, keberangkatan kloter YIA 9 dilakukan lebih cepat dari jadwal semula karena seluruh jemaah telah siap diberangkatkan.

“Kalau semua jemaah sudah masuk bus, jumlahnya sudah dicek dan siap berangkat, maka lebih baik diberangkatkan lebih awal agar tidak terlalu lama menunggu di dalam bus,” ujar Ramlan Rabu (13/5/2026).

Rombongan YIA 9 dijadwalkan singgah di Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali untuk mengambil niat ihram sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Bagi jemaah yang mampu dapat melaksanakan salat sunnah di masjid, sementara jemaah lansia dan pengguna kursi roda tetap berada di dalam bus.

Meski sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit Arab Saudi, kondisi kesehatan Mbah Mardi kini dinyatakan stabil. Selama masa pemulihan, ia disebut tetap kooperatif dan memiliki nafsu makan yang baik.

“Makanannya enak, saya suka,” ujar Mbah Mardi singkat.

Selama berada di Madinah, Mbah Mardi juga telah menjalani sejumlah ibadah, mulai dari salat di Masjid Nabawi hingga berziarah ke Raudhah dan makam Rasulullah SAW.

Di balik tubuh renta yang kini bergantung pada kursi roda, tersimpan semangat dan keteguhan yang menginspirasi. Mbah Mardi mengaku selalu berusaha hidup dengan ikhlas dan bahagia dalam kondisi apa pun. Ia juga menyebut tidak pernah merokok sepanjang hidupnya.

Perjalanan menuju Makkah yang dijalani Mbah Mardi menjadi gambaran semangat jemaah lansia Indonesia dalam memenuhi panggilan haji. Dengan pendampingan petugas dan perhatian penuh terhadap kondisi kesehatannya, Mbah Mardi kini bersiap menapaki fase terpenting dalam ibadah hajinya di Tanah Suci.
[14/5 17.46] Yazid boy Sandy: Menuju Armuzna, Jemaah Diimbau Bijak Atur Aktivitas dan Jaga Kondisi Tubuh

Kementerian Haji dan Umrah mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk mulai mengatur aktivitas secara bijak dan menjaga kondisi tubuh menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaf, mengatakan bahwa kesiapan fisik menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar dan optimal.

“Menjelang Armuzna, kami mengajak seluruh jemaah untuk mulai menghemat energi dan menjaga stamina. Jangan memaksakan aktivitas fisik yang tidak mendesak agar kondisi tubuh tetap prima saat memasuki fase puncak haji,” ujar Maria Assegaf di Jakarta, Kamis (14/5).

Memasuki hari ke-24 operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, seluruh layanan jemaah Indonesia berjalan lancar. Berdasarkan data operasional terbaru, sebanyak 395 kelompok terbang (kloter) dengan total 152.724 jemaah dan 1.577 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi.

Sementara itu, sebanyak 353 kloter dengan 136.422 jemaah dan 1.412 petugas telah tiba di Makkah setelah bergerak secara bertahap dari Madinah.

Untuk kedatangan jemaah gelombang kedua melalui Bandara King Abdul Aziz International Airport, Jeddah, tercatat sebanyak 120 kloter dengan 45.914 jemaah dan 481 petugas telah tiba di Arab Saudi. Selain itu, sebanyak 10.535 jemaah haji khusus juga telah berada di Tanah Suci dan mulai menjalani rangkaian ibadah sesuai jadwal.

Maria menjelaskan bahwa PPIH Arab Saudi saat ini terus mematangkan kesiapan layanan puncak haji melalui Satuan Operasi Armuzna, termasuk kesiapan akomodasi, konsumsi, dan transportasi jemaah.

“Kesiapan tenda di Arafah saat ini sudah mencapai sekitar 90 persen. Peninjauan layanan transportasi bus Masyair juga terus dilakukan untuk memastikan mobilitas jemaah berjalan lancar saat puncak haji,” jelasnya.

Selain itu, PPIH Arab Saudi juga telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk mengantisipasi potensi kepadatan pergerakan jemaah, khususnya pada jalur Arafah menuju Muzdalifah dan Muzdalifah menuju Mina.

Kemenhaj mengingatkan jemaah agar membatasi aktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari saat suhu udara sangat tinggi. Jemaah juga diimbau memperbanyak istirahat, menjaga pola makan, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh guna menghindari dehidrasi dan kelelahan.

“Haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga ibadah fisik. Karena itu, stamina perlu dijaga sejak sekarang agar jemaah dapat menjalani Armuzna dengan baik,” lanjut Maria.

Khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, dan jemaah dengan penyakit penyerta atau risiko tinggi, Kemenhaj meminta agar selalu berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua regu, ketua rombongan, maupun petugas sektor apabila mengalami keluhan kesehatan.

Petugas kesehatan haji Indonesia hingga saat ini terus melakukan pemantauan aktif, edukasi kesehatan, serta pendampingan kepada jemaah di hotel, sektor, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), maupun fasilitas kesehatan rujukan di Arab Saudi.

Kemenhaj juga mengimbau jemaah untuk menggunakan alat pelindung diri sederhana seperti payung, alas kaki, dan masker apabila diperlukan saat beraktivitas di luar hotel guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas. (Zid)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *