Khidmat di Malam 25 Ramadan, Cerita dari Kwitang

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Udara di kawasan Kwitang Jakarta terasa berbeda pada Sabtu (14/3/2026) petang. Menjelang malam ke-25 Ramadan, hiruk-pikuk ibu kota seolah mereda, digantikan tabuhan rebana yang bertalu ritmis dan senandung selawat yang mengalun membelah langit.

Di dalam Masjid Islamic Center Indonesia, ribuan jemaah Majelis Taklim Habib Ali bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi duduk bersimpuh. Mata mereka terpejam, bibir mereka basah oleh zikir dan tahlil menjelang waktu berbuka. Ada gelombang yang menggetarkan dada, sebuah rasa syukur yang membuncah karena bisa mereguk syahdunya malam-malam terakhir bulan suci.

Bacaan Lainnya

Di atas mimbar, Habib Ali Kwitang menatap jemaahnya dengan pancaran mata yang teduh. Suaranya mengalun lembut namun tegas, mengingatkan sebuah wasiat agung. “Memasuki momen sepuluh hari terakhir ini, mari kita ingat bagaimana Baginda Nabi Muhammad SAW lebih bersungguh-sungguh menghidupkan ibadah di malam hari. Apa yang kita lakukan di sini, menahan lapar dan dahaga, bersimpuh menamatkan Al-Qur’an, semata-mata atas dasar keimanan yang total kepada Allah SWT,” pesannya.

Di tengah keheningan spiritual yang membuat bulu kuduk merinding itu, hadir sosok Wakil Menteri Agama (Wamenag), Romo H.R. Muhammad Syafi’i didampingi Tenaga Ahli Menteri Agama, Junisab Akbar. Kehadirannya sore itu bukan untuk memberi jarak antara birokrat dan rakyat, melainkan melebur dalam ukhuwah.

Dengan gaya santai yang khas, Romo Syafi’i bahkan memecah keheningan dengan sebuah seloroh hangat. “Tadi saya ditanya oleh Habib Ali, ‘Mau kasih sambutan apa santai saja?’. Tapi sungguh, suasana Ramadan yang teramat indah ini saya rasakan lebih kuat dan berbeda nilainya saat duduk bersama para habaib dan jemaah semua.”

Ketenangan Beribadah

Bagi Romo Syafi’i, momen bersila di Kwitang ini adalah refleksi dari sebuah kerinduan panjang umat Islam: kerinduan akan ketenangan beribadah yang sebenar-benarnya. Wamenag menyingkap kembali sebuah realitas sosiologis yang pernah membuat dada umat terasa sesak. Pernah ada masa di mana kegiatan keagamaan kerap dicurigai, seolah menjadi sesuatu yang kurang mendapat dukungan.

Stigma radikalisme dan separatisme kerap menghantui, membuat umat Islam “sulit bernapas” di rumahnya sendiri. Ia mencontohkan kisah pilu kecurigaan tak berdasar terhadap seorang ASN Kemenag di Aceh yang pada akhirnya sama sekali tidak terbukti.

Namun, air mata keprihatinan itu kini telah usai. Di hadapan ribuan pasang mata, Romo Syafi’i membawa kabar yang menyejukkan relung hati. Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, iklim keberagamaan dijaga dengan penuh penghormatan.

“Suasana seperti ini patut kita syukuri. Kegiatan yang membuat umat sulit bernapas itu kini semakin sirna. Negara hadir untuk memberikan kenyamanan dan keamanan beribadah yang mutlak,” tegas Wamenag.

Keindahan malam 25 Ramadan itu semakin terasa agung karena umat tidak hanya diajak memikirkan keselamatan diri sendiri. Di tengah ketenangan beribadah yang mereka rasakan, Wamenag mengingatkan tentang penderitaan saudara sebangsa manusia di ujung dunia. Ia meluruskan prasangka masyarakat terkait Board of Peace (BoP), menegaskan bahwa instrumen tersebut adalah cara nyata bangsa Indonesia memastikan agar Israel tidak menguasai Palestina. Kemerdekaan rakyat Palestina adalah doa yang selalu diselipkan dalam setiap sujud umat Islam di Indonesia.

Ketika beduk Magrib akhirnya bergema, ada sebuah kedamaian yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Malam itu, di jantung Kwitang, membawa pesan hangat dari Presiden Prabowo, Wamenag memastikan bahwa Majelis Taklim akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Pemerintah Republik Indonesia.

Di sisa malam-malam ganjil yang tengah berlari mengejar Lailatul Qadar, umat Islam Indonesia kini bisa mengangkat kedua tangannya ke langit dengan hati yang sepenuhnya tenang. Tak ada lagi rasa waswas, tak ada lagi stigma. Yang tersisa hanyalah kekhusyukan hamba yang merindukan ampunan Tuhannya. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *