Wamenag Ajak Santri Jaga Kerukunan dan Rawat Masa Depan Indonesia

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii mengajak para santri untuk menjaga kerukunan dan merawat masa depan Indonesia melalui nilai-nilai yang dipelajari di pesantren. Ajakan itu disampaikan Wamenag saat menjadi narasumber dalam acara Takjil Pesantren: Talk Show dan Ngaji Bareng Santri bertema Menjaga Kerukunan Indonesia dari Pesantren di Pesantren Al-Qur’an dan Sains Nurani.

“Karena itu saya selalu mengatakan bicara pesantren itu bicara Indonesia. Dan kalau bicara Indonesia maka kita harus juga bicara pesantren,” ujar Romo Syafii, Rabu (12/3/2026).

Bacaan Lainnya

Romo Syafii menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah hadir jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa.

“Pesantren ini adalah pendidikan yang asli Indonesia. Sudah lahir sebelum ada negara kesatuan Republik Indonesia. Santrinya terbukti adalah pelopor kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, kontribusi pesantren dalam sejarah bangsa juga terlihat dari keterlibatan para alumni pesantren dalam proses perumusan kemerdekaan Indonesia.

“BPUPKI yang dipimpin oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat itu yang merumuskan rencana kemerdekaan Indonesia, itu isinya pada umumnya adalah alumni Pondok Pesantren. Kemudian dikerucutkan menjadi tim perumus PPKI yang dipimpin oleh Insinyur Soekarno lagi-lagi isinya adalah alumni Pesantren,” ujar Romo Syafii.

“Dan beberapa bulan setelah merdeka tentara sekutu ingin kembali menguasai Indonesia dan mengancam para pejuang kita untuk menyerahkan diri lagi-lagi alumni Pondok Pesantren dengan para Kiai merumuskan apa yang dikenal dengan resolusi jihad. Tanggal 22 Oktober 1945 yang hari ini dikenal sebagai hari santri,” tambahnya.

Romo Syafii juga menyebut pesantren saat ini merupakan ekosistem pendidikan besar yang menampung jutaan santri di seluruh Indonesia.

“Nah hari ini jumlah pesantren di Republik ini mencapai 42 ribu pesantren termasuk pesantren kita ini. Dengan santri lebih dari 10 juta dan Kiainya 1,8 juta,” ujar Muhammad Syafii.

Menurutnya, pengalaman hidup di pesantren membuat para santri terbiasa hidup dalam keberagaman sehingga mampu merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Santri yang sekarang sudah menjadi alumni terbiasa untuk memahamkan bahwa perbedaan itu adalah ketentuan dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa keragaman itu merupakan anugerah yang tidak bisa ditolak tapi wajib diterima,” pungkasnya. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *